<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>LAKPESDAM NU CILACAP</title>
	<atom:link href="http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Fri, 05 Sep 2008 05:16:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='lakpesdamcilacap.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>LAKPESDAM NU CILACAP</title>
		<link>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/osd.xml" title="LAKPESDAM NU CILACAP" />
	<atom:link rel='hub' href='http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Wisata Lingkungan Segara Anakan</title>
		<link>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/2008/09/05/wisata-lingkungan-segara-anakan/</link>
		<comments>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/2008/09/05/wisata-lingkungan-segara-anakan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 05:16:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdamcilacap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[forum warga]]></category>
		<category><![CDATA[kampung laut]]></category>
		<category><![CDATA[lakpesdam]]></category>
		<category><![CDATA[segara anakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[Era 1980-an Cilacap-Kalipucang ditempuh dengan jalur transportasi air. Ada 15 kapal besar berkapasitas hingga 300 orang beroperasi di sepanjang jalur ini. Ada juga ratusan Compreng yang meramaikan jalur ini. Namun, sedimentasi di Segara Anakan menyebabkan jalur transportasi menjadi sempit dan dangkal. Kapal pun menghilang. Sebagian besar armada transportasi dikelola oleh Dinas Angkutan Sungai, Danau, dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakpesdamcilacap.wordpress.com&amp;blog=4737308&amp;post=5&amp;subd=lakpesdamcilacap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p>Era 1980-an Cilacap-Kalipucang ditempuh dengan jalur transportasi air. Ada 15 kapal besar berkapasitas hingga 300 orang beroperasi di sepanjang jalur ini. Ada juga ratusan Compreng yang meramaikan jalur ini. Namun, sedimentasi di Segara Anakan menyebabkan jalur transportasi menjadi sempit dan dangkal. Kapal pun menghilang.</p>
<p>Sebagian besar armada transportasi dikelola oleh Dinas Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (ASDP) Kabupaten Cilacap dan Ciamis. Kapal terbuat dari besi seperti kapal ferry, bedanya panjang dan besarnya lebih kecil dibanding kapal-kapal yang beroperasi di transportasi selat. Di badan kapal tertulis kata TA dilanjutkan dengan nomor serinya sehingga warga menyebutnya dengan kapal TA-1, TA-2, dan seterusnya. Selain itu, ada juga armada yang dikelola oleh perusahaan swasta, seperti kapal Kasih Sayang dan Sundawa.<span id="more-5"></span></p>
<p>Dulu, kapal-kapal tersebut menjadi primadona angkutan penyeberangan. Jam keberangkatan dibagi menjadi pagi dan siang. Di pagi hari, jadwal dimulai 07.00, 08.00, dan 09.00. Untuk siang 11.00, 12.00, 13.00. Selain mengangkut warga yang berpergian, kapal-kapal itu juga sering mengangkut penumpang turis manca negara yang berlibur di Pantai Pangandaran maupun Yogyakarta. Tak jarang para turis mampir di Cilacap dan Banyumas untuk mengunjungi objek wisata Benteng Pendem dan Batu Raden.</p>
<p>Kini, semua jalur itu sudah punah. Setiap tahun jutaan meter kubik lumpur yang terbawa arus Sungai Citanduy dan Sungai Cimeneng mengendap di kawasan ini. Sedimentasi di laguna Segara Anakan menyebabkan transportasi laut terkendala. Sejak 2000 Dinas Angkutan Sungai, Danau, dan Perairan (ASDP) Cilacap telah menghentikan armadanya untuk jalur Cilacap-Kampung Laut-Kalipucang sehingga transportasi ke tiga desa di Kampung Laut, yaitu Desa Ujung Gagak, Klaces, dan Ujung Alang nyaris terputus.</p>
<p><strong>Pilih Jalur Darat</strong></p>
<p>Saat ini warga Kampung Laut hanya dapat mengandalkan kapal compreng. Compreng adalah sebutan bagi perahu yang terbuat dari papan kayu menggunakan mesin tempel dengan daya kecil. Kapal compreng bisa mengangkut maksimal 16 orang. Jenis angkutan ini mendapat izin resmi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Cilacap untuk mengangkut penumpang.<br />
Namun, sebagian besar armada Compreng hanya beroperasi pada hari-hari yang dimanfaatkan warga untuk berbelanja. Jalur Kampung Laut ke Kalipucang hanya ramai di hari Senin dan Kamis, sementara jalur ke Cilacap Sabtu dan Minggu. Di luar waktu-waktu itu, para pengelola Compreng memilih libur karena sepinya penumpang. Mereka memanfaatkan armadanya untuk mengangkut kayu bakar, mencari air bersih, atau dibiarkan tertambat di pangkalan.</p>
<p>Tidak menentunya armada laut membuat masyarakat memilih jalur darat. Banyak warga Ujung Alang memilih mengendarai sepeda motor menyusuri jalan setapak sepanjang Pulau Nusakambangan lalu menyeberang ke Cilacap. Awalnya jalan-jalan di Pulau Nusakambangan dibuat untuk menuju beberapa Lembaga Pemasyarakatan. Kini, masyarakat umum ikut memanfaatkannya. Dari pelabuhan timur Nusakambangan kita tinggal menyebarang ke Pelabuhan Sentolo Kawat dengan jarak kurang dari 1 Km.<br />
Jalur darat ternyata lebih efektif. Bila menggunakan jalur air (Compreng) mereka membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam, melalui jalur darat (sepeda motor) cukup dengan 30-45 menit. Namun, jalur darat baru dapat dilalui engan sepeda motor sehingga untuk sarana angkutan besar, warga tetap menggunakan armada Compreng.</p>
<p><strong>Sedimentasi Segara Anakan</strong></p>
<p>Usaha menyelamatkan Segara Anakan telah dilakukan sejak dulu. Pada 1931, De Haan, seorang pejabat Pemerintah Kolonial Belanda telah menaruh perhatian pada tingginya tingkat sedimentasi. Kini, kekhawatiran De Haan menjadi kenyataan. Perairan yang terletak di selatan Cilacap dan berbatasan dengan Pulau Nusakambangan di sebelah timur dan wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, itu nyaris tinggal hikayat.</p>
<p>Cepatnya sendimentasi dapat dilihat dari penyempitan Segara Anakan. Badan Pengelolaan Kawasan Segara Anakan (BPKSA) mencatat wilayah perairan Laguna Segara Anakan pada 1903 masih 6.450 Ha. Namun pada 1939, luasnya tinggal 6.060 Ha. Sekitar 1971, luas Segara Anakan menyusut lagi menjadi 4.290 Ha. Pada 1992, luas perairan yang tersisa tinggal 1.800 Ha (Barnabas: 2008).</p>
<p>Besarnya pengaruh sedimentasi dengan cara yang lebih sederhana, yaitu penyempitan pintu arus pertemuan antara Samudera Hindia dengan laguna di Plawangan. Pada 1990 lebarnya masih mencapai 240 meter, setelah dua dasa warsa selanjutnya menjadi 60 meter. Kedalamannya pun menjadi semakin dangkal, mulai dari minus 0,63 meter sampai 4,6 meter.<br />
<strong><br />
Rintis Wisata Lingkungan</strong></p>
<p>Habis compreng, terbitlah masalah. Minimnya penumpang umum membuat para pengelola compreng memutar otak. Pada tahun 2004, Forum Warga Kampung Laut merintis jalur wisata lingkungan. Mereka menawarkan paket wisata lingkungan mangrove dan aneka ragam biota laut. Para wisatawan akan diajak menelusuri laguna dengan perahu Compreng.</p>
<p>Forum warga telah menawarkan paket wisata ini ke sekolah-sekolah. Kerusakan hutan mangrove akibat penebangan kayu mangrove secara liar. Pada 1995 hutan mangrove masih seluas 9.804 ha, saat ini tinggal 7.553 ha. Semua itu terjadi karena tidak ada pendidikan lingkungan yang diajarkan di bangku-bangku sekolah. Wisata lingkungan akan mendorong anak-anak sekolah, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi untuk belajar mengamati fenomena lingkungan.</p>
<p>Segara Anakan menyimpan sejumlah keunikan. Kawasan mangrove di Segara Anakan merupakan kawasan terluas yang mendukung kehidupan minimal 85 jenis burung, termasuk 160–180 Bangau Bluwok (mycteria cinerea) dan 25 Bangau Tongtong (leptoptilos javanicus). Keduanya tercatat sebagai burung terancam punah. Di samping itu, hutan mangrove merupakan surga bagi berbagai spesies ikan, udang, dan kepiting yang menjadi andalan para nelayan Kampung Laut.</p>
<p>Kustoro, Ketua Forum Warga Kampung Laut-Cilacap.</p></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakpesdamcilacap.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakpesdamcilacap.wordpress.com&amp;blog=4737308&amp;post=5&amp;subd=lakpesdamcilacap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/2008/09/05/wisata-lingkungan-segara-anakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7849110ad01659dfc183ae7ea428c5c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lakpesdamcilacap</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Geliat Kaum Bersarung</title>
		<link>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/2008/09/05/geliat-kaum-bersarung/</link>
		<comments>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/2008/09/05/geliat-kaum-bersarung/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 04:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lakpesdamcilacap</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[karet]]></category>
		<category><![CDATA[lakpesdam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Selain Valentine Day, bulan Februari memiliki makna khusus bagi warga Cigintung, bulan ini menandai gerakan pembebasan petani dari jerat tengkulak. Membebaskan petani dari jerat tengkulak adalah awal gerakan Kompak, Komunitas Petani Karet Desa Cigintung. Berbekal gelontoran dana dari Lakpesdam NU, 27 orang anggota Kompak dapat melunasi hutangnya pada para tengkulak. Setelah itu, mereka menata organisasi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakpesdamcilacap.wordpress.com&amp;blog=4737308&amp;post=3&amp;subd=lakpesdamcilacap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="snap_preview">
<p><em>Selain Valentine Day, bulan Februari memiliki makna khusus bagi warga Cigintung, bulan ini menandai gerakan pembebasan petani dari jerat tengkulak. </em></p>
<p>Membebaskan petani dari jerat tengkulak adalah awal gerakan Kompak, Komunitas Petani Karet Desa Cigintung. Berbekal gelontoran dana dari Lakpesdam NU, 27 orang anggota Kompak dapat melunasi hutangnya pada para tengkulak. Setelah itu, mereka menata organisasi dan meningkatkan posisi tawar untuk menentukan harga.<span id="more-3"></span></p>
<p>Cigintung adalah salah satu desa di wilayah Kecamatan Wanareja, letaknya di bagian barat Kabupaten Cilacap. Dari kota Cilacap dapat ditempuh dengan angkutan umum Cilacap-Wanareja sekitar 2,5 jam karena jalanan yang dilalui banyak berlubang. Bisa juga ditempuh melalui kereta api kelas ekonomi turun di stasiun Cipari lalu disambung dengan jalan darat sekitar 1 jam.</p>
<p>Sebagai organisasi moderen, Kompak berdiri bulan Februari 2007. Namun, sebagai komunitas Kompak telah diinisasi sejak 14 tahun yang lalu. Perintisnya adalah Muhammad Daldiri. seorang guru ngaji jebolan sebuah pesantren di Banyuwangi. Lulus dari pesantrennya, Daldiri menjadi guru ngaji di sebuah pesantren di Cilongok, Banyumas. Di pesantrennya ia mengajar ribuan santri yang datang dari beragam daerah, termasuk dari Majenang dan Wanareja. Suatu saat ia dipanggil oleh kiainya dan diberi amanah untuk mengembangkan siar agama di Wanareja. Lalu ia dijodohkan dengan seorang santri asal Cigintung. Dari perkawinannya, ia dikaruniai tiga anak.</p>
<p>Tekstur geografis Cigintung adalah bebukitan, di atasnya terhampar ladang palawija, umbi-umbian, cengkeh, dan kelapa. Secara ekonomi, sebagian besar warga Cigintung hidup di bawah garis kemiskinan, terlebih setelah harga cengkeh anjlog. Pada 1990-an, para pemuda menjadi kuli atau pembantu rumah tangga (PRT) di kota sebab mereka hanya jebolan sekolah dasar. Namun demikian, warga desa Cigintung punya tradisi keagamaan yang kuat, sebagian besar penduduknya adalah jamiah Nahdlatul Ulama. Dengan reputasi guru ngaji di pesantren, Daldiri segera diminta menjadi pengasuh pengajian, dari anak-anak, remaja, ibu-ibu, hingga umum. Untuk menghidupi keluarganya, Daldiri mengolah ladang dan membuka warung yang menjual aneka keperluan sehari-hari dan barang-barang kelontong.</p>
<p><strong>Menginisasi Menanam Karet</strong><br />
Desa Cigintung juga berbatasan dengan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN), sebuah perusahaan negara yang mengolah perkebunan karet ribuan hektar karet. Melihat harga karet yang cukup tinggi, terbersit dalam pikir Daldiri untuk menanam pohon karet di ladangnya. Usaha ini sempat ditertawakan oleh sebagai warga lainnya, terlebih saat ia menjual tanahnya di Banyumas untuk modal membeli tanah di Cigintung yang rencananya ia ditamani karet.</p>
<p>“Saya sering mengamati kerja-kerja pengolahan karet di PTPN. Lalu, saya jual tanah di Banyumas untuk beli tanah di sini. Setelah tujuh tahun, pohon karet yang saya tanam bisa dinikmati hasilnya. Akhirnya, petani lainnya coba meniru, ladang yang tadinya ditanami cengkeh, kelapa, dan umbi-umbian lalu berpindah ke karet,” ungkapnya.</p>
<p>Pada 1996, pohon karet milik Daldiri mulai dapat disadap. Ketika itu hasilnya memang belum seberapa. Menjelang Idul Fitri, harga karet terus naik dan ia mendapat pemasukan lumayan banyak sehingga ia menjadi satu-satunya warga yang dapat membeli kendaraan bermotor di desanya. Lalu, warga lain tertarik mengikuti langkah Daldiri, satu per satu petani Cigintung mulai menanam pohon karet. Sekarang 99% warga Cigintung telah beralih profesi dari penyadap gula kelapa menjadi penyadap karet.</p>
<p>Awal-awal menanam karet, kendala utama petani adalah minimnya pengetahuan tentang dunia perkaretan. Selain kualitas bibit yang rendah, cara tanamnyapun tidak beraturan. Pohon-pohon karet yang tumbuh juga tidak dirawat dengan baik. Pemupukan pun nihil. Hal itu disebabkan karet belum menjadi tumpuan utama hidup mereka. Sebagian besar petani masih mengutamakan menanam padi gogo atau ubi di sela-sela pohon karet. Selain itu, produksi gula kelapa menjadi mata pencaharian lain warga desa. Dengan naiknya kebutuhan rumah tangga banyak petani karet yang hutang pada tengkulak. Karena terikat hutang mau tak mau mereka harus menjual hasil karetnya pada sang tengkulak. Dalam penentuan harga petani tidak memiliki posisi tawar sedikitpun sehingga harga karet stagnan.</p>
<p><strong>Bebaskan Petani dari Jerat Tengkulak</strong><br />
Kondisi di atas jelas membuat Daldiri gelisah. Ia mencoba mendekati para petani. Caranya, setelah shalat Isya biasanya para jamaah tidak langsung pulang, tetapi saling bercengkrama ngalor-ngidul. Orang Cigintung menyebutnya sebagai lailatul ijtima’. Mereka saling bercengkrama perihal akar masalah yang penghambat petani. Daldiri mengusulkan pembentukan organisasi karet agar semua masalah petani bisa dibicarakan bersama-sama.</p>
<p>“Awalnya petani agak ragu, tapi setelah kita saling bertukar argumen, mereka secara sukarela bersepakat membentuk Kompak,” ujarnya.</p>
<p>Sebagai jamiah NU, Daldiri menghubungi Lakpesdam untuk membantu segala tetek bengek pendirian organisasi maupun manajemen pengelolaannya. Dari hasil fasilitasi Lakpesdam disimpulkan akar penyebab miskinnya petani adalah rendahnya harga jual karet. Harga jual karet rendah sebab petani tidak memiliki kebebasan menjual produk sebab terjerat hutang pada para tengkulak. Oleh karena itu, langkah awal yang mendesak adalah mencari cara mengeluarkan petani dari jerat hutang para tengkulak.</p>
<p>Pucuk dicinta ulam tiba, Lakpesdam menyepakati pinjaman dana lunak tanpa bunga pada Kompak. Dengan dana tersebut, para petani karet anggota Kompak dapat melunasi hutangnya pada tengkulak. Sekarang hasil produksi karet tidak lagi dimonopoli oleh tengkulak, Kompak bisa memasarkan sendiri sehingga harga jual meningkat. “Produk karet Cigintung memiliki mutu yang baik, terlebih para petaninya mau berpikir maju dengan mendirikan organisasi jadi Lakpesdam mengapresiasinya dengan pinjaman. Kebetulan lembaga memiliki projek pemberdayaan ekonomi warga,” ujar Syaiful Mustain, Manajer Program Lakpesdam Cilacap.<br />
Setelah satu tahun lebih lepas dari jerat tengkulak, petani karet mulai merasakan dampaknya. Harga karet yang sebelumnya hanya Rp 18.000,-/kg meningkat menjadi Rp 22.500/kg. Selain itu, melalui pelatihan dan kunjungan ke kelompok petani karet yang lebih maju produktivitas petani juga meningkat. Sekarang ini Kompak mengelola pohon karet produktif kurang lebih 5.200 pohon. Rata-rata petani dapat menghasilkan 120 kg karet mentah. Jadi, rata-rata petani memiliki penghasilan Rp 2.700.000,-</p>
<p><strong>Jadikan Mushola sebagai Pos Pemberdayaan Warga</strong><br />
Keberhasilan Kompak tidak dapat dilepaskan dari peran kegiatan keagamaan warga. Kegiatan-kegiatan keagamaan dijadikan wahana warga untuk membahas permasalahan kemasyarakatan dan perekonomian. Warga Cigintung memiliki jadwal-jadwal pertemuan berdasarkan kegiatan rutin keagamaan seperti Yasinan tiap malam Jumat, Pengajian Muslimat tiap Jumat pagi, dan forum-forum Bashul masail.</p>
<p>“Menurut para ulama, umat Islam dianjurkan supaya menjadi orang yang mampu secara keduniaan tetapi hatinya tidak tergantung pada urusan dunia (hububdunya). Kita mencari dunia untuk kesejahteraan hidup, terlebih jika harta yang kita dapatkan bisa menjadi modal ibadah itu kan bagian dari ibadah itu sendiri,” ujar Daldiri.</p>
<p>Jika ada petani ingin bertukar pikiran dan informasi biasa mereka datang ke mushola. Mereka saling bercerita tentang masalah mereka, misalnya “kok, karet saya seperti ini, sudah dipupuk, diberi anu, tapi masih seperti ini, dan lain-lain. Daldiri sementara ini menjadi narasumber utama, di samping beberapa pengurus lainnya.</p>
<p>“Jika saya mampu menjawab maka segera saya menerangkan, tetapi jika tidak Kompak menghubungi orang yang lebih pinter atau meminta lakpesdam membawa persoalan ini kepada ahlinya,” terangnya sembari tersenyum lebar. <strong>[Yossy Suparyo]</strong></div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/lakpesdamcilacap.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=lakpesdamcilacap.wordpress.com&amp;blog=4737308&amp;post=3&amp;subd=lakpesdamcilacap&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://lakpesdamcilacap.wordpress.com/2008/09/05/geliat-kaum-bersarung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f7849110ad01659dfc183ae7ea428c5c?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">lakpesdamcilacap</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
